The Flash S04E01 : “The Flash Reborn”

Setelah sekian lama, The Flash Season 4 telah rilis, juga sebagai penanda ArrowVerse tahun ke 5 telah dimulai. Episode ini mengambil setting waktu 6 bulan setelah episode final season 3 dimana si Barry Allen aka The Flash pergi menuju speedforce.

Seperti episode 1 di setiap season (kecuali season 1), ceritanya agak “gak bener”. Biasanya episode final setiap season selalu diakhiri dengan si flash pergi ke suatu tempat (luar angkasa, masa lalu, atau speedforce) tapi pas episode 1 season berikutnya selalu balik terus yaudah gitu aja, ga ada adegan apa yang dihadapi si flash, atau tim yang ditinggalin. Yaudah gitu aja.

Ceritanya dimulai dari tim kid flash menangkap salah satu metahuman jahat di kota. Lalu muncul samurai jahat yang susah dikalahkan untuk level tim kid flash, samurai tersebut mengancam akan menghancurkan kota kalau si flash yang asli gak muncul.

Berikutnya, Cisco menggunakan alat nya membantu mengeluarkan Barry Allen dari speedforce untuk mengatasi si samurai. Ternyata berhasil, namun si Barry Allen seperti mengalami gangguan mental, suka ngomong sendiri, gak nyambung dan suka melakukan hal aneh seperti menulis kode-kode aneh di dinding.

Salah satu karakter yang paling gak saya suka dari serial the Flash adalah si Iris West, iya bener bahwa Iris adalah istri di cerita the Flash, tapi itu bukan berarti setiap adegan mesti muncul, ganggu banget, sudah gitu biasanya kerja nya cuma bikin kacau, bikin ribet aja. Di episode ini, si Iris West kembali melakukan hal gak bener 2 kali, ketika melarang Cisco menyelamatkan Barry, dan juga ketika menyerahkan diri ke samurai. Melihat apa yang dilakukan Iris ini seperti mau bilang “lu ngapain sih? Duduk diem kerja yg bener gak usah bikin repot lah”. Biasanya kalau bagian Iris akan memulai obrolan, saya lebih memilih untuk fast forward video nya.

Pada episode ini juga muncul joke di komunitas fans the Flash tentang kekuatan baru dalam dunia the Flash. Sebelumnya ada speedforce, yang merupakan kekuatan inti si the Flash, lalu ada plotforce, kekuatan si sutradara dalam menulis cerita yang kadang gak masuk akan dan gak nyambung, dan sekarang muncul kekuatan baru loveforce, kekuatan yang sebenarnya sudah mulai muncul di season sebelumnya, kekuatan yang muncul gara-gara “kekuatan cinta” si Barry & Iris. Ini efek dari plotforce tadi, dalam episode ini si Barry tiba-tiba sembuh aja gitu dari gangguan mental ketika tau si Iris dalam bahaya (karena ke-tidak-pintaran nya sendiri). Pfft.

Pada episode ini juga dimunculkan si the thinker, yang sepertinya akan menjadi musuh besar di season ini. The Thinker adalah sosok musuh yang cerdas yang cenderung sebagai orang di balik layar kejahatan, gak pernah turun langsung melainkan menggunakan utusan dan strategi yang disusunnya. Ini juga sekaligus jadi penyegaran karena 3 season sebelumnya musuh besar the flash adalah speedster mulu, jadi selalu aja “balapan lari” adalah penyelesaian setiap masalah.

Episode berikutnya mungkin akan memperlihatkan aksi lain dari si the thinker. Tapi yang lebih seru adalah melihat bagaimana episode 1 dari season 5 the Arrow dan episode 1 dari season 3 legends of tomorrow yang juga akan dimulai di Minggu ini.

Kembali ke Piit

Terkait postingan sebelumnya, kami menambah masa tinggal di Bandung selama seminggu. Nah, selama seminggu ini kami memutuskan untuk pindah dan keluar dari apartemen, menuju tempat yang lebih mudah akses kemana saja, dan paling bener adalah balik ke Jl. Piit.

Sebenarnya waktu awal datang ke Bandung kemarin sudah pengen di Piit aja, tapi gak punya no telp atau orang terdekat yang bisa kontak si empunya kost, sekali2nya saya datang langsung ternyata ga ada yang kosong. Berhubung sewa apartemen nya sudah kelar, saya nyoba pergi ke Piit siapa tau uda kosong, ternyata bener, dan ya kami pindah ke Piit atau lebih tepatnya ciung.

Piit sendiri sebenarnya adalah alamat kantor saya sebelumnya, yang merupakan tempat tinggal saya selama onsite 1 tahun lebih di Bandung.

Balik ke Piit ini seperti nostalgia. Beberapa penjual makanan juga masih inget, merasa senang aja masih ada yang negur dan nanya kabar, masih ingat. Beberapa tempat juga masih sama seperti 4 tahun lalu. Merasa keren aja ketika nyonya bertanya sesuatu dan saya bisa jawab “oh kalau mau itu disebelah sana adanya” 🙂

Sepertinya kami bakal nambah lagi beberapa hari, karena kalau ngikutin seminggu masa tinggal maka jatuhnya akan di weekend, dan saya bukan tipe orang yang suka jalan-jalan keluar di weekend, sumpek!

Sudah sebulan aja

Hari ini 1 Oktober, berarti sudah masuk Minggu ke 4 di kota Bandung! Yang berarti sudah masuk masa injury time untuk stay di kota ini.

Jujurnya bisa dibilang gak kerasa, karena berbeda dengan bulan lalu ketika di Yogyakarta, pekerjaan saya gak terlalu padat, sehingga lebih banyak main dan jalannya. Disini, di Bandung, saya sedang masa awal projek baru yang artinya lagi sibuk-sibuknya, lagi hectic jadi lebih banyak ngurusin kerjaan, gak banyak tempat yang dikunjungi.

Selain karena pekerjaan, lokasi tempat tinggal kami juga kurang strategis sehingga agak jauh kalau mau kemana-mana. Termasuk juga Bandung sudah mulai memasuki musim penghujan.

Sebagai tetangga ibu kota negara, kerasa sih Bandung ini serba wah, semua serba ada, banyak tempat terbuka publik yang bisa untuk sekedar nyantai menikmati waktu yang berlalu. Apalagi jalur pejalan kaki nya yang juga lebar dan nyaman buat berjalan santai.

Salah satu yang menarik di Bandung adalah angkot nya, sebenarnya sangat membantu masyarakat untuk berpergian, hanya saja entah karena saya orang baru, tapi trayek nya sangat bikin pusing.

Balik ke masa injury time tadi, jadi sebenarnya niat awal memang cukup sebulan saja, tapi atas dasar berbagai macam pertimbangan (ada tempat yang belum dikunjungi, ada event menarik yang mesti dihadiri, dll) kami memutuskan untuk menambah masa tinggal kami selama seminggu, ya mudahan itu cukup untuk semuanya sebelum terus melanjutkan perjalanan ke ibu kota negara.

Mendefinisikan masalah

Satu hal yang paling mendasar dalam membuat sebuah solusi adalah pastiin dulu kamu punya masalah yang perlu diperbaiki. Gak bisa langsung terjun bikin solusi padahal gak tau ni masalahnya apaan :).

Beberapa mungkin bakal bilang, “ya iyalah, solusi ada karena ada masalah”

Iya bener, tapi saya sudah sering bertemu beberapa orang atau lebih tepat disebut klien, dimana gak punya penjelasan detail tentang masalah apa yang ingin di benahi.

Terkadang penjelasan yang diberikan terlalu general, atau bahkan gak konek sama sekali ke substansi asal masalah. Jadinya ya solusi apapun yang diberikan gak bakal cocok karena definisi masalah sendiri gak clear.

Salah satu yang saya pelajari dari design sprint, pertama kali dan paling penting adalah mendefinisikan masalah, mencari inti dari masalah yang ingin dipecahkan. Setelah semua masalah dikeluarkan, lalu di filter mana yang benar-benar penting dan inti, dan dibuatlah ide bagaimana memecahkan masalah tersebut.

Jadi bukan sekedar hajar bleh, tapi mesti di jelasin dulu sejelas es batu baru bisa lanjut ke bagian solusi.

What a great weekend!

Weekend kemarin bener-bener menyenangkan. Weekend yang hanya bisa terjadi karena kami sedang berada di Bandung.

Sabtu,

Saya menemukan event mini workshop SCRUM fundamental yang diadakan oleh makers institut. Di event ini mas Wahid as speaker nya bener-bener menjelaskan scrum secara mendasar namun tetep berbobot.

Event ini sangat spesial untuk saya pribadi karena sudah sejak beberapa waktu terakhir saya memfokuskan diri untuk lebih intens dalam manajemen dan proses kerja ketimbang pengembangan dari sisi teknologi. Jadi spesial karena selama ini saya hanya sampai pada membaca buku-buku saja, kali ini langsung ketemu dan diskusi bahkan ada simulasi nya juga dengan orang-orang yang memang menaruh perhatian khusus pada manajemen kerja dengan scrum ini.

Minggu,

Saya bersama anak dan istri mengikuti playdate yang diadakan oleh @mamahs_bandung. Playdate sendiri adalah event “main bareng” untuk krucil-krucil umur 3-6 tahun. Playdate kali ini tema nya adalah happy shark adventure yang diadakan di @halbelbdg.

Karena tempat nya memang untuk aktifitas outdoor, maka si anak-anak pada seru bermain dan menjalani setiap obstacle yang ada (sudah macam ninja warrior aja ahaha). Ada halang rintang, meniti Titian, tangkap ikan, water boating, hingga flying fox.

Sayangnya dan sesuai dugaan anak saya gak berani ikut main flying fox walaupun pada awalnya terlihat pengen banget bahkan sudah dipakaiin kostum dan pengaman, tapi ternyata nyerah hehe.

Dua acara diatas jadi spesial karena acara seperti itu adalah acara yang sudah lama saya (event scrum) dan istri (event playdate) pengen banget untuk ikut hadir, namun belum ada di kota asal saya.

Bulan depan rencananya 2 acara ini akan diadakan lagi, perpanjang masa tinggal di Bandung gak ya. 🙂

Di Bandung

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, bulan ini kami stay di Bandung untuk sekitar 1 bulan, mungkin bisa kurang, tapi lebih mungkin untuk lebih lama.

Tidak seperti di Yogyakarta yang memang sambil jalan-jalan. Di Bandung ini sebenarnya lebih banyak kerja nya. Niat awal ke Bandung memang dalam rangkaian jalan-jalan tapi kebetulan ada yang nawarin kerjaan jadi ya di sambil, sambil jalan ya sambil kerja. Lumayan nambahin uang saku hehe.

Terhitung sudah seminggu lebih sehari di sini. Atmosfer Bandung memang jauh berbeda dengan di Yogyakarta, atau setidaknya di daerah dimana kami tinggal.

Di Bandung sangat terasa macet dan padatnya lalulintas, lalu jalan raya nya juga berkelok-kelok, tidak seperti di Yogyakarta yang lebih straight forward, lalu juga tidak ada kafe-kafe atau tempat makan fancy namun punya harga yang reasonable.

Tapi ya gitu, baru seminggu disini dan kebanyakan waktu nya dipakai untuk adaptasi dengan lingkungan, jadi memang belum masuk masa fun nya.

Hari ini mau jalan-jalan kemana yah..

TIL in Yogyakarta

Setelah berada di Yogyakarta hampir sebulan, ada banyak hal baru yang saya pelajari disini. Beberapa diantaranya cukup unik dan kerasa banget berbeda dibandingkan kota asal saya. Apa aja sih?

Gak ada kendaraan umum

Ada sih katanya, seperti Transjogja, tapi ya gak bisa asal stop seperti angkot-angkot di kota saya. Selain itu rute nya juga gak menjangkau tempat saya tinggal, sehingga mau kemana-mana agak ribet.

Pilihannya harus punya kendaraan sendiri, cari sewaan kendaraan atau ya udah pake gojek/grab/Uber yang keliaran di sepanjang jalan. Saya sendiri baru meng-install gojek di smartphone saya setelah tiba disini, sebelumnya liat apps nya aja belum pernah.

Sebenarnya gojek cukup berguna banget, lebih praktis daripada angkot. Tapi karena saya pergi gak sendiri, melainkan bawa anak istri, order gojek itu jadi tricky. Mau gak mau kalau berpergian mesti sewa 2 gojek, karena ya ga mungkin 1 motor 4 orang. Jadi dilema karena bayar 2 driver itu hanya sedikit lebih murah dari go-car, jadi agak tanggung. Nah kalau pakai go-car jadi ga kerasa, jauh lebih mahal di bandingkan angkot.

Gak ada jukir liar

Biasanya di tempat saya, kalau mau pergi ke suatu tempat, mesti siap uang 2 ribuan buat parkir. Ini terjadi di semua tempat, mau di mini market, warung kecil2an, ATM, bahkan kantor dinas pemerintah pun selalu ada juru parkir (jukir) yang selalu muncul kalau kamu mau pergi dari tempat tersebut.

Di sini, saya jarang banget ketemu. Pake “jarang” karena sempet ada juga di beberapa tempat yang muncul tapi ya terlihat ada usaha, minimal bantu menyeberangkan jalan. Selain itu jukir nya juga pada fair, fee nya cukup seribu perak, kalau ga ada uang kecil untuk bayar ya di kembalikan pas, gak terus di jadiin 2 ribu atau 3 ribu gara-gara gak ada kembalian.

Sedikit klarifikasi, saya ok aja ama jukir as long as beneran juru parkir. Kebanyakan yang saya temui di kota saya agak gak masuk akal, gak kerja, gak muncul ketika kendaraan datang, pas mau pergi tau-tau muncul gitu aja. Beberapa juga gak punya hati, masa iya jadi jukir di tempat yang fee parkir nya lebih gede dari belanja nya, misal fotocopy-an atau juga ATM yg cuma sebentar, kadang pake maksa pula. fiuh.

Untuk kendaraan roda dua, helm gak perlu di kunci di jok

Saya merasa seperti orang yang parno-an disini. Soalnya setiap parkir kendaraan roda dua, saya selalu mengunci helm saya dibawah jok, padahal yang lain ga ada yang seperti itu, bahkan di tempat-tempat ramai seperti mall atau tempat wisata, orang Yogyakarta tidak mengunci helm nya.

Di tempat saya? Jangankan helm yang mulus dan ok punya, helm yang uda jelek aja masih ada kemungkinan untuk hilang dicuri. Punya helm bagus di kota saya itu beban tersendiri karena setiap parkir punya rasa kuatir bakal dicuri.

Apa lagi ya?

Banyak men, sampai bingung dan uda panjang post nya, jadi cukup sekian dan terimakasih

Nge-Jogja

Kalau saya ada dalam daftar teman kamu di Facebook atau bahkan kamu follow Instagram saya, kamu pasti tau bahwa sejak beberapa waktu lalu tepatnya awal bulan Agustus ini saya tidak berada di Samarinda. Saya saat ini sedang berada di kota Yogyakarta paling tidak sampai awal bulan September.

Ciee liburan..

Bukan, bukan liburan, saya kesini bukan dalam rangka liburan, bukan pula dalam rangka lagi ada kerjaan yang mesti on site. Kalau istilah saya ama istri “pindah meja kerja” karena pada dasarnya rutinitas harian saya dan keluarga kurang lebih saja dengan di rumah sendiri.

Continue reading “Nge-Jogja”

Our Goals

Setiap orang punya goals atau tujuan hidup sendiri-sendiri. Ingin berkerja di perusahaan besar, ingin punya perusahaan sendiri, ingin sekolah ampe luar negeri, ingin punya rumah besar, ingin keliling dunia, banyak.

Jadi masalah ketika mulai membandingkan goal seseorang dengan orang lain, apalagi sampai iri, dan lebih parah jadi pengen ikut goal nya orang lain.

Padahal ya gak bisa, kita gak tau untuk mencapai goal tersebut apa saja yang sudah di hadapi, apa saja yang sudah dikorbankan.

Jadi kalau pernah atau sering merasa “ih dia kok gitu”, “ih dia kok bisa gitu”, “saya kapan”, “saya kok ga bisa gitu juga” mesti kalem dan sadar diri, bahwa ya goal kehidupan setiap orang itu berbeda, gak bisa dibandingin, gak bisa disamain.